Monday, February 3, 2020

Ini Saran Dokter Gigi Bagi yang Ingin Lakukan Prosedur Bleaching Gigi! di GueSehat.com 3 February 2020



Belakangan ini, kesadaran masyarakat terkait penampilan terus meningkat. Tidak sekadar perawatan wajah, tapi juga gigi. Nah, salah satu perawatan gigi yang populer saat ini ialah pemutihan gigi atau biasa disebut bleaching gigi.

Nah, Geng Sehat sendiri, apakah Kamu ingin memiliki gigi putih cemerlang? Jika ya, apakah Kamu berpikir untuk melakukan bleaching gigi? Well, sebelum Kamu pergi ke dokter gigi dan melakukan hal tersebut, berikut beberapa hal yang harus diketahui.

Drg. Linus Boekitwetan, M.Kes, mengatakan jika bleaching atau whitening gigi hanya sekadar estetika saja.

“Biasanya, saya menyarankan perawatan bleaching untuk pasien yang akan menikah agar memiliki senyum putih dan menawan yang bisa menambah kepercayaan diri di hari H. Tetapi, jika ada gigi yang berlubang, ya tidak bisa diputihkan karena memang harus ditambal. Jadi, bedakan antara gigi berlubang dan memang karena warna giginya kuning,” kata drg. Linus, saat diwawancarai GueSehat.

Prosedur Bleaching Gigi dan Efek Sampingnya

Walaupun bisa membuat gigi putih cemerlang, manfaat bleaching gigi hanya untuk penampilan saja, tidak ada alasan kesehatan. Namun, ada efek samping setelah melakukan bleaching gigi.

“Biasanya, setelah bleaching, gigi menjadi lebih sensitif. Tapi, akan hilang keesokan hari. Tidak ada risiko fatal jika dilakukan oleh dokter gigi,” jelas dokter gigi yang sudah prakter selama 18 tahun ini.

Bahan yang digunakan untuk bleaching gigi ialah hydrogen peroxide. Apabila hydrogen peroxide terkena gusi atau jaringan lunak di sekitar gigi, bisa menyebabkan iritasi. Namun, iritasi tersebut akan sembuh dengan sendirinya di keesokan hari.

“Jadi, enggak usah takut melakukan bleaching gigi. Aman dilakukan jika mengikuti prosedur bleaching yang benar. Tapi, jika tidak sesuai SOP atau membeli bebas produk whitening yang tidak jelas asal usulnya, bisa saja merusak gigi. Tidak disarankan membeli whitening yang dijual bebas di internet karena tidak diketahui dengna jelas kandungan bahannya, apakah aman untuk gigi atau tidak,”bebernya.

Idealnya, seseorang boleh melakukan bleaching gigi jika sudah berumur di atas 15 tahun. Namun, ada beberapa kategori yang tidak bisa melakukan bleaching gigi.

“Yang tidak bisa melakukan bleaching gigi di antaranya ibu hamil dan menyusui, mereka yang masih memiliki gigi susu, gigi yang sudah sensitif, dan gigi palsu,” jelas drg. Linus.

Konsultasi Terlebih Dahulu

Sebelum melakukan bleaching gigi, Kamu disarankan untuk berkonsultasi dahulu ke dokter gigi.

“Konsultasi ke dokter gigi itu penting karena biasanya, pasien tidak bisa membedakan apakah giginya berwarna hitam karena lubang atau antibiotik tetrasiklin, atau karena sudah non vital,” ujar dokter gigi yang praktek di Linus Boekitwetan Dental Care, Jakarta Barat ini.

“Jika non vital, akan dilakukan bleaching intrakorona. Sementara kalau vital, akan diberikan treatment office atau home bleaching.  Jika gigi tidak bisa di-bleaching karena antibiotik tetrasiklin, harus di-veneer untuk mengubah warna giginya,” ujar drg. Linus.

Lantas, apa perbedaan antara bleaching vital, intrakorona, dan office bleaching dan home bleaching?

“Kalau bleaching vital, berarti giginya belum mati, masih gigi normal. Jadi, bleaching yang dilakukan hanya di permukaan gigi saja. Untuk bleaching intrakorona, dilakukan dari dalam gigi. Jika gigi sudah non vital, biasanya harus dilakukan perawatan saluran akar gigi atau endodontic treatment dahulu sebelum di bleaching intrakorona,” jelas pria kelahiran 1977 ini.

Saat melakukan bleaching intrakorona, biasanya bahan bleaching ditaruh di dalam kamar pulpa untuk kemudian ditambal sementara. Setelah itu, akan dievaluasi setiap 1 minggu sekali untuk mengetahui apakah warnanya sudah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Jika sudah sesuai, bahan bleaching bisa dikeluarkan dan ditambal permanen.

“Nah, kalau home bleaching itu dilakukan sendiri di rumah. Kandungan hydrogen peroxide lebih kecil dari office bleaching, berkisar  10 hingga 15 saja. Biasanya menggunakan custom bleaching tray yang dicetak dan dibuat di dental laboratorium sesuai gigi pasien. Pasien diharuskan untuk memakainya setiap hari selama 8 jam  dan dievaluasi 1 minggu kemudian,” tutur drg. Linus.

Hasilnya Tidak Permanen

Bleaching gigi tidak bersifat permanen, tergantung makanan dan minuman yang dikonsumsi. Jika sering mengonsumsi teh, kopi, dan juga merokok, gigi bisa menguning kembali dalam waktu kurang dari 1 tahun. Tapi, jika Kamu menjaga makanan dan minuman yang dikonsumsi, gigi putih akan bertahan lebih dari 1 tahun.

“Secara umum, gigi berwarna kuning karena genetik, seperti halnya warna rambut, mata, dan kulit. Faktor eksternal yakni dari minuman yang dikonsumsi atau faktor internal seperti antibiotik tetrasiklin dan juga trauma seperti gigi terbentur, bisa menyebabkan gigi menjadi nonvital dan berubah warna jadi kuning atau hitam,” tutur dokter gigi yang hobi networking dan media sosial ini.

Tidak dipungkiri jika saat ini, ada banyak pasta gigi mengandung whitening yang bisa membuat gigi putih cemerlang. Lantas, seberapa efektif pasta gigi whitening tersebut?

“Bisa saja (membuat gigi putih), tapi tingkatan putihnya tidak akan secemerlang bleaching. Biasanya, sesudah bleaching, pasien disarankan untuk menggunakan pasta gigi whitening untuk maintenance,” ujar drg. Linus.

Harga untuk melakukan bleaching gigi bervariasi, tergantung klinik,” jelas drg. Linus.